Arsip Blog

Tunda Menikah

Oleh: @SahabatIlmu

(Hampir) tidak pernah ada masa siap menikah, selalu ada alasan untuk menunda.

A. Miskin

Allah ta’ala berfirman,

إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ

“Jika mereka (orang yang menikah) itu miskin maka Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya..” (QS. An-Nuur: 32)

Boleh jadi berupa rizki yang mencukupi atau sifat qona’ah (senantiasa merasa cukup) atas limpahan nikmat..

Bahkan bisa saja terkumpul dua keadaan di atas..

B. Ditolong Allah.

Satu dari tiga golongan yang pasti ditolong Allah diantaranya..

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Seorang yang menikah sebab hendak menjaga kesucian dirinya..” (Hasan, HR. An-Nasa’i: 3218, At-Tirmidzi: 1655)

C. Maksiat

Adakalanya seseorang telah memiliki kecukupan dan keluasan rizki namun tak jua kunjung menikah..

Untuk mereka, Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu menasihati:

ما يمنعك من النكاح إلا عجز أو فجور

“Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali sebab lemah (syahwat) atau ahli maksiat..”

[Al-Muhalla: 9/4 Ibnu Hazm rahimahullah]

Jadi.. Sejatinya apa yang membuat seseorang menunda menikah..?!

 

Iklan

Tiada Bahaya Mendekat

Oleh: @SahabatIlmu

Ingin terhindar dari bahaya?

Bacalah dzikir pagi petang berikut dengan penuh keyakinan..

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang ketika memasuki waktu petang mengucapkan,

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan menyebut nama Allah yang dengan namaNya tiada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang bisa mendatangkan mudharat.

Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.. (dibaca 3x)

Niscaya tidak akan ada sesuatupun yang mampu memudharatkannya hingga waktu pagi.

Dan barangsiapa yang mengucapkannya ketika memasuki waktu pagi tiga kali.

Niscaya dia tidak tertimpa musibah secara tiba-tiba hingga petang hari..”

(Shahih, HR Abu Daud: 5088, at-Tirmidzi: 3388, Ibnu Majah: 3869, Ahmad: 1/72, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 6426 al-Albani)

Bila Allah telah menjaga..

Siapa yang mampu memudharatkan kita..?

Bacalah seluruh doa dan dzikir kita dengan penuh keyakinan..

Bukan sekedar lintasan lisan..

Berharap tiada bahaya kemudharatan yang akan mendekat..

Ambil Rapot

Oleh: @SahabatIlmu

Jantung berdebar saat mengambil rapot Ananda?

Hati gelisah kala menanti hasil belajarnya?

Bayangkan masa ketika kita pun mengambil rapot amalan di akhirat kelak.

A. Rapot Akhirat

Allah Ta’ala berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata:

”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya;

dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga” (QS. Al-Kahfi: 49)

Penulisan rapot sekolah bisa saja salah..

Namun rapot catatan amal kita di akhirat, tak akan pernah keliru..

Tertulis dengan detil dan apa adanya..

 

B. Perindah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bertutur,

”Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan hari perhitungan..

adapun besok (di akhirat) merupakan hari perhitungan dan bukan lagi hari untuk beramal..” (riwayat al-Bukhari secara mu’allaq)

  • bagi guru yang sedang menulis rapot siswa..

          jangan lupa menulis rapot akhirat kita dengan amal shalih dan kebaikan yang ada..

  • untuk siswa yang sangat senang menghiasi rapot belajarnya..

          jangan luput hiasi diri dengan keindahan akhlak dan kebajikan jiwa..

  • kepada orang tua yang bahagia bila mendapati bagusnya rapot Ananda..

          jangan tinggalkan semangat membina dan mengajarkan buah hati dengan ilmu agama..

Semoga..

Perebut Kehangatan Rumah Tangga

Oleh: @SahabatIlmu

Saat ini..

Teknologi mengambil banyak peran dalam komunikasi rumah tangga..

Memberi kemudahan..

Namun terkadang melenakan..

Sayangnya.. Seringkali anak merasa sendirian..

Walau orang tua ada di hadapan..

Tetapi sang ayah sibuk bersama gadgetnya..

Bunda asyik senyum-senyum sendiri kepada benda kotak mungil (baca: hp) lima inci..

Bagai anak yatim piatu walau masih hidup ayah ibu..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ

“Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan untuk suatu keluarga..

Maka Dia (Allah) memasukan kelemah-lembutan kepada mereka..” (Shahih, HR Ahmad, as-Shahihah: 523 al-Albani)

Jangan sampai nikmat teknologi dalam genggaman (hp) merebut kehangatan rumah tangga kita..

Yuks letakkan dan sapa ananda sang buah hati dan keluarga tercinta..

Haidh di Penghujung Ramadhan

Oleh: @SahabatIlmu

Bagi wanita, haidh adalah suatu keniscayaan..
Untuk wanita, haidh merupakan anugerah kenikmatan..
Jangan diingkari apalagi disesali..
Walau terjadi di penghujung bulan suci..

A. Ketetapan Allah

Tatkala Aisyah bersedih sebab kedapatan haidh ketika berhaji..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Perkara ini (haidh) adalah suatu ketetapan yang Allah berikan kepada kaum wanita..

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji..kecuali thawaf di Ka’bah hingga engkau bersih..”

[HR. Bukhari: 305, Muslim: 1211]

Bagi hamba yang beriman..
Berkurangnya kesempatan beribadah merupakan kesedihan..
Namun bukanlah menjadi penghalang..

B. Berbuat Apa?

Juwaibir berkata bahwa dia pernah bertanya pada adh-Dhahak rahimahullahu ta’ala,

“Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tertidur;
Apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar..?”

Adh-Dhahak pun menjawab,

“Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian..
Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian Lailatul Qadar..”

[Lathaiful Ma’arif: 341]

C. Bahagia Amal Diterima

Fudhalah bin ‘Ubaid berkata,

“Bila saja aku mengetahui Allah menerima dariku satu amalan kebaikan walaupun kecil sedikit..
tentu lebih aku sukai dari dunia dan seisinya.. karena Allah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa” [QS al-Maidah: 27]

Diantara amalan yang dapat dilakukan:

1) Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar, terutama doa yang dianjurkan saat lailatul qadr.

2) Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh langsung mushaf (misal gunakan pelapis, sarung tangan, dsb)

3) Bersedekah,

4) Mempersiapkan sahur dan berbuka bagi keluarga,

5) Beragam amal kebajikan lain.

Tetap semangat beramal kebajikan walau haidh di penghujung Ramadhan.

Belanja Keperluan Keluarga

Oleh: @SahabatIlmu

Bila di hari kerja, sulit anggota keluarga berkumpul semuanya..

Maka di hari libur akhir pekan ini, alangkah baiknya jalan bareng bersama..

A. Keluarga Bahagia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ

“Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan untuk suatu keluarga..

Maka Dia (Allah) memasukan kelemah-lembutan kepada mereka..” (Shahih, HR Ahmad, as-Shahihah: 523 al-Albani)

B. Antar Belanja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

“Amal yang paling dicintai Allah adalah membuat muslim lainnya bahagia…

atau menghilangkan kesusahannya,

atau melunasi hutangnya,

atau mengenyahkan lapar yang ia rasakan..

وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Sungguh aku berjalan bersama saudara muslim untuk suatu hajat keperluan, lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (yakni masjid Nabawi) selama sebulan penuh..” (Hasan, HR. ath-Thabrani: 13280, Shahihul Jami’ 176 al-Albani)

Keluarga bahagia bukanlah yang berlimpah harta..

Namun mereka yang hari-harinya dipenuhi kehangatan dan canda tawa..

Bila amal-amal yang dicintai Allah di atas diberikan kepada saudara muslim..

Tentu kepada keluarga sendiri lebih utama..

Jika berjalan bersama saudara muslim untuk memenuhi hajatnya lebih dicintai dari beri’tikaf di Masjid Nabawi..

Mengapa masih ada yang enggan menemani keluarga (terutama anak istri) untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga?

Kokohnya keluarga merupakan tonggak kekuatan masyarakat dan bangsa..

Selama Baik, Jangan Bosan

Oleh: @SahabatIlmu

Pernah mendengar sepasang insan yang “berpacaran” tahunan, namun membina rumah tangga hanya seumur jagung…?

Ada pula seorang pria/wanita yang berkeinginan berpisah hanya karena “bosan” dengan tingkah laku pasangan…?!

Padahal (mungkin) letak kesalahan justru terletak pada dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah.

Apabila ia membenci salah satu perangainya, niscaya ia akan ridha dengan perangai lainnya…” (HR. Muslim: 1469)

Ingatlah masa-masa lamaran dan menentukan tanggal pernikahan…

Kenanglah saat-saat bulan awal membina rumah tangga…

Jangan dirusak hanya karena sifat bosan…

Sahabat yang mulia, ‘Amr bin Ash berkata,

“Aku tidak bosan kepada bajuku selama masih pantas kukenakan…

Dan aku tidak bosan atas istriku selama ia masih baik mempergauliku…

Dan tidaklah aku bosan terhadap tungganganku selama masih mampu memikulku…

Sesungguhnya sifat mudah bosan termasuk perangai yang buruk…”

(Siyar A’lamin Nubala: 3/57)

Bosanlah dari berbuat kejahatan, jenuh akan diri bila selalu malas…

Tetapi… Selama sesuatau itu berupa kebaikan, jangan bosan.

@SahabatIlmu

Beberapa Atsar Tentang Keutamaan Ilmu Syar’i Atas Ibadah

Diriwayatkan dari az-Zuhri, beliau mengatakan,

ماَ عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ العِلْمِ

“Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amal lebih utama dari pada dengan ilmu.” (Hilyah al-Auliya` 3/365)

Ditanyakan kepada Atha` bin Abi Rabaah,

ماَ أَفْضَلُ ماَ أُعْطِيَ العِبادُ ؟ قالَ: العَقْلُ عَنِ اللهِ تَعالىَ وَهُوَ المَعْرِفَةُ بِالدِّيْنِ

“Apakah yang paling utama yang diberikan kepada setiap hamba?” Beliau menjawab, “Akal akan Allah ta’ala, yaitu pengetahuan akan agama.” (al-Hilyah 3/315)

Dan juga Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri mengatakan,

لاَ أَعْلَمُ مِنْ العِبادَةِ شَيْئاً أَفْضَلُ مِنْ أَنْ يُعَلِّمَ النَّاسَ العِلْمَ

“Tidaklah saya mengetahui sesuatu dari ibadah yang lebih utama dari pada mengajarkan ilmu bagi kaum manusia.” (Jami` Bayaan al-Ilmi 1/124)

Di lain waktu beliau juga mengatakan,

لَيْسَ عَمَلٌ بَعْدَ الفَراَئِضِ أَفْضَلَ مِنْ طَلَبِ العِلْمِ

“Tiada amalan setelah pengerjaan amal fardhu lebih utama dari menuntut ilmu (al-Hilyah 6/363)

Di dalam al-Amaali karya asy-Syajari 1/66, diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa beliau mengatakan,

تَعَلُّمُ العِلْمِ سَنَةً أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةٍ مِائَةَ سَنَةٍ

“Belajar ilmu selama setahun lebih utama dari ibadah seratus tahun.”

Diriwayatkan juga dari al-Hasan al-Bashri bahwa beliau berkata,

لَباَبٌ واَحِدٌ مِنْ العِلْمِ أَتَعَلَّمُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْياَ وَماَ فِيْهاَ

“Satu bahasan dari ilmu yang saya pelajari lebih saya cintai dari dunia dan segala isinya.” (al-Hilyah 6/271)

Abdurrahman bin Mahdi juga berkata,

الرَّجُلُ إِلىَ العِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُ إِلىَ الأَكْلِ وَالشُرْبِ

“Seseorang lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan akan makan dan minum.” (al-Hilyah 9/4)

Sumber : BBG Assunnah

Habis Mudik : Lakukan Bersama

Oleh: @SahabatIlmu

Selepas mudik,

Saatnya beberes rumah yang sudah sepekan kita tinggalkan..

Waktunya membersihkan pakaian yang kemarin kita kenakan.

Mari lakukan bersama.

A. Bantu Keluarga

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berada di rumah.

Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya dan apabila tiba waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat…” (HR al-Bukhari: 676)

B. Inilah Contoh Kita

Dilain kesempatan diriwayatkan, Urwah bertanya kepada ‘Aisyah,

“Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)…?”

Aisyah menjawab,

مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

“Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya.

Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember…”

(Shahih, HR Ahmad 6:167, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 5676)

Ketika khadimat (pembantu) sedang tidak ada, inilah saat tepat saling bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Berbagi tugas menyapu dan mengepel..

Bisa juga “surfing” di lautan busa (baca: nyuci baju) bersama.

Sang Ayah tak boleh luput untuk turut serta…

Yuks habis mudik, Kita beberes rumah lakukan bersama..

@SahabatIlmu

Mudik : Habis Berapa, Dapat Apa?

Oleh: @SahabatIlmu

Ada sebagian orang yang mencoba menghitung-hitung secara matematis.

Waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan dari kegiatan mudik.

Hmm… Cukup kita meluruskan niat mudik untuk bersilaturrahim bertemu sanak saudara, niscaya pikiran untung rugi mudik tak pernah terbetik.

A. Kenal Saudara Tumbuh Cinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ اَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِيْ الأْهْلِ، مُشَرَّاةٌ فِيْ الْمَالِ، مُنْسَأَةٌ فِيْ الْعُمْرِ

“Pelajarilah nasab kalian agar dapat menyambung silaturrahim. Sebab sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan diantara keluarga, menambah (barakah) harta dan memperpanjang usia…”

(Shahih at-Tirmidzi: 2/190 al-Albani)

B. Rizki Lapang Umur Panjang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَلَهُ فِيْ أَشَرِهِ فَلْيَصِلْ

“Barang siapa yang suka dilapangkan rizki dan diakhirkan ajal (panjang umur) hendaklah menyambung silaturrahim…” (HR al-Bukhari: 5985)

Jangan lagi berhitung untung-rugi mudik.

Sebab bila kita berharta banyak namun tak lagi punya sanak saudara, mau silaturrahim sama siapa..?

Barakah itu tidak terasa, tak pernah diduga.

Masihkah berpikir mudik: habis berapa dan dapat apa…?

@SahabatIlmu

%d blogger menyukai ini: