Arsip Blog

Haidh di Penghujung Ramadhan

Oleh: @SahabatIlmu

Bagi wanita, haidh adalah suatu keniscayaan..
Untuk wanita, haidh merupakan anugerah kenikmatan..
Jangan diingkari apalagi disesali..
Walau terjadi di penghujung bulan suci..

A. Ketetapan Allah

Tatkala Aisyah bersedih sebab kedapatan haidh ketika berhaji..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Perkara ini (haidh) adalah suatu ketetapan yang Allah berikan kepada kaum wanita..

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji..kecuali thawaf di Ka’bah hingga engkau bersih..”

[HR. Bukhari: 305, Muslim: 1211]

Bagi hamba yang beriman..
Berkurangnya kesempatan beribadah merupakan kesedihan..
Namun bukanlah menjadi penghalang..

B. Berbuat Apa?

Juwaibir berkata bahwa dia pernah bertanya pada adh-Dhahak rahimahullahu ta’ala,

“Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tertidur;
Apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar..?”

Adh-Dhahak pun menjawab,

“Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian..
Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian Lailatul Qadar..”

[Lathaiful Ma’arif: 341]

C. Bahagia Amal Diterima

Fudhalah bin ‘Ubaid berkata,

“Bila saja aku mengetahui Allah menerima dariku satu amalan kebaikan walaupun kecil sedikit..
tentu lebih aku sukai dari dunia dan seisinya.. karena Allah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa” [QS al-Maidah: 27]

Diantara amalan yang dapat dilakukan:

1) Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar, terutama doa yang dianjurkan saat lailatul qadr.

2) Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh langsung mushaf (misal gunakan pelapis, sarung tangan, dsb)

3) Bersedekah,

4) Mempersiapkan sahur dan berbuka bagi keluarga,

5) Beragam amal kebajikan lain.

Tetap semangat beramal kebajikan walau haidh di penghujung Ramadhan.

Iklan

Belanja Keperluan Keluarga

Oleh: @SahabatIlmu

Bila di hari kerja, sulit anggota keluarga berkumpul semuanya..

Maka di hari libur akhir pekan ini, alangkah baiknya jalan bareng bersama..

A. Keluarga Bahagia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ

“Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan untuk suatu keluarga..

Maka Dia (Allah) memasukan kelemah-lembutan kepada mereka..” (Shahih, HR Ahmad, as-Shahihah: 523 al-Albani)

B. Antar Belanja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

“Amal yang paling dicintai Allah adalah membuat muslim lainnya bahagia…

atau menghilangkan kesusahannya,

atau melunasi hutangnya,

atau mengenyahkan lapar yang ia rasakan..

وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Sungguh aku berjalan bersama saudara muslim untuk suatu hajat keperluan, lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (yakni masjid Nabawi) selama sebulan penuh..” (Hasan, HR. ath-Thabrani: 13280, Shahihul Jami’ 176 al-Albani)

Keluarga bahagia bukanlah yang berlimpah harta..

Namun mereka yang hari-harinya dipenuhi kehangatan dan canda tawa..

Bila amal-amal yang dicintai Allah di atas diberikan kepada saudara muslim..

Tentu kepada keluarga sendiri lebih utama..

Jika berjalan bersama saudara muslim untuk memenuhi hajatnya lebih dicintai dari beri’tikaf di Masjid Nabawi..

Mengapa masih ada yang enggan menemani keluarga (terutama anak istri) untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga?

Kokohnya keluarga merupakan tonggak kekuatan masyarakat dan bangsa..

Selama Baik, Jangan Bosan

Oleh: @SahabatIlmu

Pernah mendengar sepasang insan yang “berpacaran” tahunan, namun membina rumah tangga hanya seumur jagung…?

Ada pula seorang pria/wanita yang berkeinginan berpisah hanya karena “bosan” dengan tingkah laku pasangan…?!

Padahal (mungkin) letak kesalahan justru terletak pada dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah.

Apabila ia membenci salah satu perangainya, niscaya ia akan ridha dengan perangai lainnya…” (HR. Muslim: 1469)

Ingatlah masa-masa lamaran dan menentukan tanggal pernikahan…

Kenanglah saat-saat bulan awal membina rumah tangga…

Jangan dirusak hanya karena sifat bosan…

Sahabat yang mulia, ‘Amr bin Ash berkata,

“Aku tidak bosan kepada bajuku selama masih pantas kukenakan…

Dan aku tidak bosan atas istriku selama ia masih baik mempergauliku…

Dan tidaklah aku bosan terhadap tungganganku selama masih mampu memikulku…

Sesungguhnya sifat mudah bosan termasuk perangai yang buruk…”

(Siyar A’lamin Nubala: 3/57)

Bosanlah dari berbuat kejahatan, jenuh akan diri bila selalu malas…

Tetapi… Selama sesuatau itu berupa kebaikan, jangan bosan.

@SahabatIlmu

Beberapa Atsar Tentang Keutamaan Ilmu Syar’i Atas Ibadah

Diriwayatkan dari az-Zuhri, beliau mengatakan,

ماَ عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ العِلْمِ

“Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amal lebih utama dari pada dengan ilmu.” (Hilyah al-Auliya` 3/365)

Ditanyakan kepada Atha` bin Abi Rabaah,

ماَ أَفْضَلُ ماَ أُعْطِيَ العِبادُ ؟ قالَ: العَقْلُ عَنِ اللهِ تَعالىَ وَهُوَ المَعْرِفَةُ بِالدِّيْنِ

“Apakah yang paling utama yang diberikan kepada setiap hamba?” Beliau menjawab, “Akal akan Allah ta’ala, yaitu pengetahuan akan agama.” (al-Hilyah 3/315)

Dan juga Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri mengatakan,

لاَ أَعْلَمُ مِنْ العِبادَةِ شَيْئاً أَفْضَلُ مِنْ أَنْ يُعَلِّمَ النَّاسَ العِلْمَ

“Tidaklah saya mengetahui sesuatu dari ibadah yang lebih utama dari pada mengajarkan ilmu bagi kaum manusia.” (Jami` Bayaan al-Ilmi 1/124)

Di lain waktu beliau juga mengatakan,

لَيْسَ عَمَلٌ بَعْدَ الفَراَئِضِ أَفْضَلَ مِنْ طَلَبِ العِلْمِ

“Tiada amalan setelah pengerjaan amal fardhu lebih utama dari menuntut ilmu (al-Hilyah 6/363)

Di dalam al-Amaali karya asy-Syajari 1/66, diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa beliau mengatakan,

تَعَلُّمُ العِلْمِ سَنَةً أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةٍ مِائَةَ سَنَةٍ

“Belajar ilmu selama setahun lebih utama dari ibadah seratus tahun.”

Diriwayatkan juga dari al-Hasan al-Bashri bahwa beliau berkata,

لَباَبٌ واَحِدٌ مِنْ العِلْمِ أَتَعَلَّمُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْياَ وَماَ فِيْهاَ

“Satu bahasan dari ilmu yang saya pelajari lebih saya cintai dari dunia dan segala isinya.” (al-Hilyah 6/271)

Abdurrahman bin Mahdi juga berkata,

الرَّجُلُ إِلىَ العِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُ إِلىَ الأَكْلِ وَالشُرْبِ

“Seseorang lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan akan makan dan minum.” (al-Hilyah 9/4)

Sumber : BBG Assunnah

Habis Mudik : Lakukan Bersama

Oleh: @SahabatIlmu

Selepas mudik,

Saatnya beberes rumah yang sudah sepekan kita tinggalkan..

Waktunya membersihkan pakaian yang kemarin kita kenakan.

Mari lakukan bersama.

A. Bantu Keluarga

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala berada di rumah.

Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya dan apabila tiba waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat…” (HR al-Bukhari: 676)

B. Inilah Contoh Kita

Dilain kesempatan diriwayatkan, Urwah bertanya kepada ‘Aisyah,

“Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)…?”

Aisyah menjawab,

مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

“Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya.

Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember…”

(Shahih, HR Ahmad 6:167, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 5676)

Ketika khadimat (pembantu) sedang tidak ada, inilah saat tepat saling bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Berbagi tugas menyapu dan mengepel..

Bisa juga “surfing” di lautan busa (baca: nyuci baju) bersama.

Sang Ayah tak boleh luput untuk turut serta…

Yuks habis mudik, Kita beberes rumah lakukan bersama..

@SahabatIlmu

Mudik : Habis Berapa, Dapat Apa?

Oleh: @SahabatIlmu

Ada sebagian orang yang mencoba menghitung-hitung secara matematis.

Waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan dari kegiatan mudik.

Hmm… Cukup kita meluruskan niat mudik untuk bersilaturrahim bertemu sanak saudara, niscaya pikiran untung rugi mudik tak pernah terbetik.

A. Kenal Saudara Tumbuh Cinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ اَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِيْ الأْهْلِ، مُشَرَّاةٌ فِيْ الْمَالِ، مُنْسَأَةٌ فِيْ الْعُمْرِ

“Pelajarilah nasab kalian agar dapat menyambung silaturrahim. Sebab sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan diantara keluarga, menambah (barakah) harta dan memperpanjang usia…”

(Shahih at-Tirmidzi: 2/190 al-Albani)

B. Rizki Lapang Umur Panjang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَلَهُ فِيْ أَشَرِهِ فَلْيَصِلْ

“Barang siapa yang suka dilapangkan rizki dan diakhirkan ajal (panjang umur) hendaklah menyambung silaturrahim…” (HR al-Bukhari: 5985)

Jangan lagi berhitung untung-rugi mudik.

Sebab bila kita berharta banyak namun tak lagi punya sanak saudara, mau silaturrahim sama siapa..?

Barakah itu tidak terasa, tak pernah diduga.

Masihkah berpikir mudik: habis berapa dan dapat apa…?

@SahabatIlmu

Jangan Tinggalkan Sahur

Oleh: @SahabatIlmu

Meski terasa berat, karena mata masih mengantuk…

Hendaklah kita tetap makan sahur.

Sebagai asupan energi di siang hari, dan yang utama adalah barakah serta berpahala.

A. Walau Seteguk Air

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ

“Sahur adalah makanan yang barakah, maka janganlah kalian meninggalkannya walau hanya minum seteguk air…” (Hasan, HR. Ahmad, al-Jami’ ash-Shahih: 3683 al-Albani)

B. Barakah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dalam sabda beliau,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah, sesungguhnya dalam makan sahur terdapat barakah…” (HR. al-Bukhari: 1923, Muslim: 2544)

C. Waktu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersahur mendekati waktu subuh.

Tatkala Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu ditanya ukuran jarak antara adzan subuh dan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab,

“Sekira kadar (membaca) lima puluh ayat Al-Qur’an…” (HR. al-Bukhari: 1921, Muslim: 2547)

Hal ini menunjukkan dekatnya waktu makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan adzan subuh.

@SahabatIlmu

Kurma Di Bulan Puasa

Oleh: @SahabatIlmu

Di Bulan Ramadhan, kurma menjadi makanan favorit.

Sesuai sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga menyehatkan.

A. Saat Sahur

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

..نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah kurma…” (HR Abu Daud, ash-Shahihah: 562 al-Albani)

B. Menu Berbuka

Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu bertutur,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ…

“Dahulu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berbuka puasa dengan berberapa butir ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat (maghrib).

Apabila tidak ada kurma basah maka berbuka dengan tamr (kurma kering).

Dan jika tidak ada kurma kering maka berbuka dengan beberapa teguk air…”

(HR Ahmad, ash-Shahihah: 2840 al-Albani)

Sebelum menyiapkan sahur dan berbuka dengan aneka olahan makanan dan minuman semisal sate, rendang maupun kolak pisang…

Jangan lupa menyediakan kurma untuk sahur dan berbuka puasa kita…

Sudah tersedia khan…?

@SahabatIlmu

Muslimah Menuntut lmu

Oleh: @SahabatIlmu

Sebagaimana diketahui bahwa, “Menuntut Ilmu Wajib Bagi Setiap Muslim” maka sepatutnya kita bersemangat mendatangi majlis-majlis ilmu.

A. Waktu Khusus Untuk Wanita

Abu Sa’id al-Khudri radhiyyallahu ‘anhu berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, lalu berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيْثِكَ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِكَ فِيْهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ. فَقَالَ: اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذا، فِي مَكَانِ كَذَا. فاَجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ الله

“Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah pergi membawa haditsmu. Tentukanlah satu hari darimu khusus untuk kami (kaum wanita); kami akan mendatangimu untuk belajar kepadamu pada hari itu agar engkau mengajarkan kami apa yang Allah ajarkan kepadamu.”

Beliau pun bersabda, “Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu, di tempat ini dan itu (beliau menyebutkan waktu dan tempat tertentu).”

Kemudian mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yang telah dijanjikan. Rasulullah mendatangi mereka, lalu mengajarkan kepada mereka dari ilmu yang Allah ajarkan kepada beliau” (HR. Bukhari no. 7310, Muslim)

B. Semangat Dalam Berilmu

Sifat MALU -khususnya- bagi wanita adalah keharusan. Namun, hal tersebut tidaklah menghalangi mereka dalam bertanya perihal ilmu.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita dari kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi diri mereka untuk mendalami ilmu agama.” (HR. Muslim)

C. Bersaing Dalam Perkara Akhirat

Bila ada yang berbangga kepadamu tentang gadget/perabotan baru, maka ajaklah, “Mari kita bersama memperbaharui hapalan, bagian surat dari al-Qur’an”.
Saat ada yang menceritakan tentang gosip terhangat, maka arahkan tentang kisah Ibunda para Sahabat Nabi dan ulama Islam”.
Hasan Al-Bashri berkata, “Apabila engkau mendapati seseorang yang mengalahkanmu dalam urusan dunia, maka kalahkanlah dia dalam perkara akhirat..”

@SahabatIlmu

Latihan Jelang Ramadhan

Oleh: @SahabatIlmu

Paruh awal Sya’ban akan berlalu.
Artinya bulan Ramadhan segera menjelang..

Sudahkah kita membiasakan diri…?

Membiasakan membaca al-Qur’an meski satu halaman.

Sebab Ramadhan disebut juga Syahrul Qur’an…

Melazimkan sedekah walau seribu rupiah.

Karena di Bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat ringan ‘tuk bersedekah…

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang paling dermawan, dan kedermawanan yang paling hebat pada diri beliau adalah di bulan Ramadhan pada saat Malaikat Jibril menemuinya.

Jibril mendatangi beliau di setiap malam untuk mengajarkannya Al-Qur’an.

Dan sungguh (saat itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin lepas yang berhembus…”

(HR. Al-Bukhari: 3220, Muslim: 2308)

@SahabatIlmu

%d blogger menyukai ini: