Arsip Blog

Apakah Yahudi Berhak Atas Palestina?

Masuknya Yahudi ke wilayah Timur Tengah selain dilatarbelakangi faktor teknis yakni kekalahan Turki Utsmani di Perang Dunia I atas Inggris dan sekutunya, juga didorong oleh faktor ideologi yakni keinginan Yahudi mendirikan negara Yahudi (home land) yang menerapkan hukum-hukum Taurat (versi Yahudi). Dari situ muncullah klaim orang-orang Yahudi yang dipelopori oleh Theodor Herzl, bapak Yahudi modern, bahwa kitab suci mereka mengatakan tanah Palestina diwariskan untuk bangsa Yahudi.

Apakah benar Yahudi memiliki hak atas tanah Palestina? Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa sedikit menjadi wawasan bagi kita bersama.

Latar Belakang Klaim Yahudi Atas Palestina

Alasan utama Yahudi memilih tanah Paletina adalah karena tanah Kan’an tersebut telah dijanjikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan anak keturunannya untuk membangun negara di wilayah tersebut, dan mereka mengklaim bahwasanya mereka adalah keturunan dari kekasih Allah itu. Janji itu termaktub dalam Kitab Kejadian 15: 3-5, “Sungguh akan kami berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar, yakni Sungai Eufrat.”

Oleh karena itu, baik Yahudi yang fundamentalis maupun yang liberalis berbondong-bondong datang ke Palestina untuk menjemput janji di kitab suci mereka, bahkan kedatangan mereka telah berlangsung sebelum tahun 1948 yang menjadi hari jadi Negara Israel.

Namun klaim mereka ini dianggap sangat lemah, jika benar Palestina adalah tanah yang dijanjikan, mengapa isu ini tidak muncul sejak dahulu kala? Bahkan isu ini belum ada ketika gerakan politik zionis pertama kali muncul di zaman Theodor Herzl. Sebelum Palestina, awalnya Theodor Herzl menetapkan beberapa wilayah Afrika, Amerika Utara, dan El-Arish di Sinai, Mesir sebagai tanah nasional mereka (Katz, 1996: 129) sebagai. Saat itu nama Palestina memang sudah sering disebut, namun belum muncul pemikiran tanah yang dijanjikan kecuali setelah beberapa lama waktu berselang. Herzl juga pernah mengusahakan tempat bagi orang-orang Yahudi di Mozambiq dan Kongo. Pembesar-pembesar zionis lainnya seperti Max Nordau, pada tahun 1897 mengusulkan Argentina untuk Negara Yahudi, tahun 1901 ia mengusulkan Siprus, dan di Uganda tahun 1903.

Penduduk Asli Palestina

Jika orang-orang Yahudi mengklaim, secara nasab, mereka adalah pewaris tanah Palestina, maka klaim ini sangat rapuh sekali dan mudah untuk dibantah. Mengapa? Karena nenek moyang bangsa Arab dari kalangan orang-orang Kan’an telah menginjakkan kaki di tanah tersebut sejak awal tahun 3000 SM (Khan, 1981: 26) atau bahkan sejak 4000 SM. Sehingga daerah tersebut dinamai dengan tanah Kan’an. Setelah beberapa waktu berlalu, wilayah tersebut pun memiliki tiga bahasa yang digunakan untuk komunikasi keseharian mereka: bahasa Arab, Aramia (bahasa yang digunakan Nabi Isa ‘alaihissalam), dan bahasa Kan’aniyah.

Khaz’al al-Majidi menyatakan orang-orang Kan’an berasal dari wilayah pesisir Teluk Arab. Hal ini didasari dengan adanya kesamaan nama-nama tempat di pesisir Teluk Arab di era klasik dengan nama-nama kota tempat bermukimnya orang-orang Kan’an di wilayah Syam. Selain itu, orang-orang Kan’an di Syam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Semit mirip dengan bahasa orang-orang Ka’an Ameria yang berasal dari Jazirah Arab. Orang-orang Kan’an ini dikenal dengan istilah Arab Baidah, bangsa Arab yang telah punah.

Adapun Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hijrah dari Aur di Irak menuju Palestina pada pertengahan atau akhir tahun 3000 SM, dan ada pula yang mengatakan 1500 tahun setelah kedatangan orang-orang Kan’an. Di tempat itulah istri beliau mengandung dan melahirkan Nabi Ishaq ayah dari Nabi Ya’qub, yang kemudian Nabi Ya’qub dinamai pula dengan Israil (Abdullah).

Dengan demikian, orang-orang Arab telah lebih dahulu tinggal di wilayah Palestina dibandingkan dengan nenek moyang bangsa Israel.

Benarkah Yahudi Berhak Atas Palestina?

Dari sisi manapun sangat sulit mengatakan bahwa orang-orang Yahudi memiliki hak atas tanah Palestina. Klaim ini hanya timbul karena Yahudi memiliki lobi yang lebih kuat di dunia internasional. Lebih dari itu, sangat sulit mengatakan bahwa mereka berhak atas Palestina. Ditinjau dari sisi manapun: sisi historis, nasab, dan agama.

[Lanjutkan Membaca]

Nasihat Terakhir al-Akh al-Faadhil al-Ustaadz Aneuk Ibnu Saini bin Muhammad Musa (25-04-1979 — 25-06-2013) Rahimahullah

Tulisan berikut adalah kajian terakhir Ustadz Ibnu Saini rahimahullaah. Semoga ini menjadi catatan kebaikan yang terus mengalir untuk beliau, dan sebagai pengingat bagi kita bahwa maut adalah rahasia Allah yang bisa datang kapan saja. Semoga kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah, aamiin Allaahumma aamiin…

# MENIT-MENIT DAN DETIK-DETIK TERAKHIR #

Nasihat terakhir al-Akh al-Faadhil al-Ustaadz Aneuk Ibnu Saini bin Muhammad Musa (25-04-1979 — 25-06-2013) rahimahullah

Tema: Taat kepada Ulul Amri (Penguasa)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعود بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد

Ikhwatal Islam, kaum muslimin, pendengar radio Rodja dan tv Rodja yang saya cintai karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Kalau kita tanya kepada sebagian besar kaum muslimin, tentang apakah kita boleh untuk keluar ke jalan, mengadakan demonstrasi dan unjuk rasa menentang kebijakan pemerintah muslim, pemerintah kaum muslimin yang sah di negeri kita ini? maka akan banyak dari saudara-saudara kita atau yang terbanyak dari kita kaum muslimin akan menjawab, iya, boleh, karena itu adalah hak kita sebagai rakyat untuk menuntut kepada pemimpinnya, ini yang mereka ucapkan. Tapi kaum muslimin sekalian, kalau kita mencari jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang beliau ajarkan kepada kita di dalam Islam, justru akan kita dapati jawaban yang berbeda, di mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً

Barang siapa yang ingin memberikan nasihat kepada pemimpinannya, kepada penguasanya, maka janganlah dia tampakkan nasihat itu di depan umum, di forum umum, di mimbar-mimbar Jumat atau di depan kaum muslimin.

فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ

Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaklah seseorang yang akan memberikan nasihat kepada pemimpinannya, dia menarik tangannya.

وَلْيَخْلُوْا بِهِ

Berdua dengannya.

فَإِنْ قَبِل فَذَاكَ وِإِلاَّ فَقَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ.

Kalau pemimpin ini menerima nasihat yang kita sampaikan maka itulah yang terbaik, dan bila tidak maka kita telah menunaikan kewajiban kita.

Inilah yang diajarkan oleh nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda dengan apa yang kita yakini, kaum muslimin, dan berbeda dengan apa yang kita amalkan saat ini dan hari ini, kaum muslimin. Di mana kaum muslimin apabila tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan pemerintahnya, pemimpinnya yang dari kaum muslimin, maka mereka keluar ke jalan-jalan, mengadakan unjuk rasa dan demonstrasi dan menyebarkan aib pemimpinnya di tengah-tengah masyarakat, mencela bahkan merendahkan pemimpinnya di tengah-tengah umat, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi mengatakan, barang siapa yang ingin memberikan nasihat hendaklah dia memberikan nasihatnya itu berdua dengannya, empat mata, tidak menampakkan nasihatnya itu di depan umum, atau di depan khalayak ramai, karena itu akan menjatuhkan martabat seorang pemimpin muslim di tengah-tengah mata rakyatnya.

[Lanjutkan Membaca]

Letak Kebahagiaan Bukan Pada Kemewahan Dunia

Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini.

Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”

[Lanjutkan Membaca]

Keras Kepala, Lupa dan Salah Merupakan Tabiat Manusia

Abd bin Humaid menceritakan kepada kami, Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, Hisyam bin Sa’ad menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, kemudian dari punggung itu keluar makhluk-makhluk keturunan Adam yang diciptakanNya hingga hari kiamat. Dan Allah memberikan tanda berkilau dari cahaya yang terletak antara kedua matanya pada setiap orang.

Kemudian Allah memperlihatkannya kepada Adam. Adam bertanya, ‘Wahai Tuhanku, siapakah mereka itu?’ Allah menjawab, ‘Mereka adalah anak keturunanmu.’

Kemudian Nabi Adam melihat seorang lelaki yang membuatnya ta’ajub karena tanda yang berkilau antara kedua matanya tersebut. Lalu Adam menanyakan, ‘Wahai Tuhanku, siapakah orang ini?’ Allah menjawab, ‘Orang ini termasuk umat yang hidup di akhir zaman, mereka biasa memanggilnya ‘Daud’.
Adam bertanya, ‘Ya Rabbi, engkau memberi jatah umur kepadanya berapa tahun? Allah menjawab, ’60 tahun.’ Adam berkata, ‘Ya Rabbi, tambahkan usianya dari jatah usiaku 40 tahun.’

Ketika umur Adam telah dipenuhi dan malaikat maut menjemputnya, Adam berkata, ‘Bukankah umurku masih tersisa 40 tahun lagi?’ Allah menjawab, ‘Bukankah umur itu telah engkau berikan untuk Daud.’
Adam ingkar, begitu juga anak keturunannya. Adam lupa, begitu juga anak keturunannya. Adam berbuat salah, begitu juga anak keturunannya.” [1]

Pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kekuasan Allah berlaku untuk setiap sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan kehendakNya. Dia memutuskan sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki dan berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki juga.
2. Adam adalah nenek moyang seluruh umat manusia.
3. Adam tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang akan keluar dari tulang rusuknya.
4. Nabi Daud diberi kelebihan oleh Allah rupa yang elok yang diletakkan di atas matanya, sehingga Nabi Adam merasakan kelebihannya itu.
5. Amal dan ajal waktunya telah ditentukan, tidak bisa bertambah atau berkurang.
6. Usia orang-orang Bani Israil sama dengan usia umat ini, yakni pendek usianya.
7. Umat Bani Israil termasuk umat yang hidup di akhir zaman.
8. Hendaknya seorang hamba memberikan sebagian karunia yang diberikan Allah dalam rangka amal shalih.
9. Di antara tabiat buruk manusia adalah lupa, salah dan ingkar.
10. Doa ketika bersin dan jawabannya serta ucapan salam adalah syariat universal yang ada pada tiap syariat-syariat lain.
11. Menetapkan bahwasanya Allah mempunyai dua tangan. Dia menggenggamnya sesuai dengan kehendak-Nya dan dengan cara yang dikehendaki-Nya, tanpa takyif dan ta’thil.
12. Kemampuan Adam untuk menghitung benda.
13. Anjuran untuk menulis hutang dan dalam muamalah yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari sifat ingkar dan lupa pada diri manusia.

__________________

[1] HR. At-Tirmidzi 2878, Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid 67, Ibnu Hibban 6167, Ahmad 1/251.

[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: “61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat”, pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]

Sumber

Ilmu Tidaklah Diraih Dengan Badan Yang Malas

Ada sebuah kisah yang menarik yang dibawakan oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ yang bisa jadi motivasi bagi setiap penuntut ilmu. Kisahnya adalah sebagai berikut:

وقال الرازي: وسمعت علي بن أحمد الخوارزمي يقول: سمعت عبد الرحمن بن أبي حاتم يقول: كنا بمصر سبعة أشهر، لم نأكل فيها مرقة، كل نهارنا مقسم لمجالس الشيوخ، وبالليل: النسخ والمقابلة.
قال: فأتينا يوما أنا (1) ورفيق لي شيخا، فقالوا: هو عليل، فرأينا في طريقنا سمكة أعجبتنا، فاشتريناه، فلما صرنا إلى البيت، حضر وقت مجلس، فلم يمكنا إصلاحه، ومضينا إلى المجلس، فلم نزل حتى أتى عليه ثلاثة أيام، وكاد أن يتغير، فأكلناه نيئا، لم يكن لنا فراغ أن نعطيه من يشويه.
ثم قال: لا يستطاع العلم براحة الجسد (2).

Ar Rozi berkata, “Aku pernah mendengar ‘Ali bin Ahmad Al Khawarizmi menyatakan bahwa beliau pernah mendengar bahwa ‘Abdurrahman bin Abu Hatim bercerita,

“Kami pernah berada di Mesir selama tujuh bulan dan kami tidak pernah menyantap makanan berkuah. Pada setiap siang, kami menghadiri majelis para Syaikh. Sedangkan di malam hari, kami menyalin pelajaran dan mendiktekannya kembali. Pada suatu hari, aku bersama sahabatku ingin menemui seorang guru (Syaikh). Namun di tengah perjalanan, ada yang berkata bahwa guru tersebut sedang sakit. Lantas di tengah perjalanan, kami melihat ikan yang menarik hati kami. Kami pun membelinya. Ketika tiba di rumah, ternyata datang lagi waktu bermajelis, sehingga kami belum sempat mengolah ikan yang dibeli tadi. Kami pun langsung berangkat ke majelis. Demikian terus berlangsung hingga tiga hari. Akhirnya ikan itu membusuk. Lantas kami pun memakannya seperti itu dalam keadaan mentah. Saat itu kami tidak sempat memberikannya kepada seseorang untuk membakarnya. Kemudian ‘Abdurrahman bin Abu Hatim berkata, “Laa yustatho’ul ‘ilmu bi rohatil jasad” (Ilmu -agama- tidaklah bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai). (Siyar A’lamin Nubala’, 13/266)

Saudaraku … inilah kisah dari ulama salaf dahulu sebagai motivasi bagi kita saat ini. Beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari sepenggal kisah di atas:

1. Perlu pintar-pintar membagi waktu antara urusan dunia dan urusan agama.

2. Setiap orang memang akan sibuk dengan urusan dunianya untuk mencari penghidupan, namun mereka punya kewajiban untuk mempelajari agama. Terlebih lagi ada ilmu yang setiap individu wajib mempelajarinya yang membuat Islamnya sah dan tidak sampai meninggalkan kewajiban atau menerjang larangan Allah.

[Lanjutkan Membaca]

Ahli Ibadah dan Seorang Perempuan

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang ahli ibadah pada masa Bani Israil selalu beribadah kepada Allah di rumah ibadahnya selama 60 tahun. Suatu ketika, hujan turun membasahi bumi sehingga menjadi hijau subur. Kemudian, ahli ibadah itu keluar dari rumah ibadahnya sambil berbisik, ‘Sekiranya aku turun dari padepokan ini kemudian memperbanyak dzikir tentulah kebaikanku bertambah.’

Lalu ia turun dari padepokan dengan membawa satu atau dua potong roti. Ketika ia berjalan-jalan, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang perempuan. Lalu dia mulai bercakap-cakap dengan perempuan tersebut, si perempuan juga nampak asyik ngobrol dengannya sehingga tanpa diduga ahli ibadah tadi terlena dan berzina dengannya. Lelaki ahli ibadah itu pingsan, kemudian ia menceburkan diri ke danau untuk mandi.

Rupanya datang seorang peminta-minta, memberi isyarat kepadanya untuk meminta 2 atau 1 potong roti tersebut. Kemudian lelaki ahli ibadah itu mati.
Selanjutnya, pahala amal ibadah yang dikerjakan selama 60 tahun itu ditimbang dengan dosa perbuatan zinanya, ternyata dosa zinanya lebih berat. Kemudian 1 atau 2 potong roti tadi ditimbang dengan amal kebaikan lelaki ahli ibadah tersebut, hasilnya adalah lebih berat kebaikannya, maka dosa lelaki tersebut diampuni Allah.” [1]

Pelajaran Yang Dapat Dipetik:

Pelajaran Yang Dapat Dipetik:

1. Umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperbolehkan memisahkan diri dari masyarakat untuk beribadah, menghindari pergaulan dan tidak mendekati wanita (istri).
2. Dengan sebab banyak memikirkan dan merenungkan ayat-ayat Allah dan penciptaannNya, iman, pengetahuan dan mahabbah seseorang dapat bertambah.
3. Terkadang setan mendekati seorang hamba dengan cara memberi nasehat, amar ma’ruf dan berbuat kebaikan.
4. Bahaya perempuan penggoda lelaki, sesungguhnya ia adalah jerat-jerat setan.
5. Zina merupakan dosa besar.
_____________________

[1] HR. Ibnu Hibban, 820.

[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, edisi bahasa Indonesia: “61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat”, pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta]

Sumber: http://www.alsofwah.or.id

[Kisah Nyata] Jahannam Setelah 300 KM

Aku mengenal seorang pemuda yang dulu termasuk orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Dulu dia bersama dengan teman-teman yang buruk sepanjang masa mudanya. Pemuda itu meriwayatkan kisahnya sendiri:

“Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, aku dulu keluar dari kota Riyadh bersama dengan teman-temanku, dan tidak ada satu niat dalam diriku untuk melakukan satu ketaatanpun untuk Allah, apakah untuk shalat atau yang lain.”

“Alkisah, kami sekelompok pemuda pergi menuju kota Dammam, ketika kami melewati papan penunjuk jalan, maka teman-teman membacanya “Dammam, 300 KM”, maka aku katakan kepada mereka aku melihat papan itu bertuliskan “Jahannam, 300 KM”. Merekapun duduk dan menertawakan ucapanku. Aku bersumpah kepada mereka atas hal itu, akan tetapi mereka tidak percaya. Maka merekapun membiarkan dan mendustakanku.

Berlalulah waktu tersebut dalam canda tawa, sementara aku menjadi bingung dengan papan yang telah kubaca tadi.

Selang beberapa waktu, kami mendapatkan papan penunjuk jalan lain, mereka berkata “Dammam, 200 KM”, kukatakan “Jahannam, 200 KM”. Merekapun menertawakan aku, dan menyebutku gila. Kukatakan: “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan “Jahannam, 200 KM”.” Merekapun menertawakanku seperti kali pertama. Dan mereka berkata: “Diamlah, kamu membuat kami takut.” Akupun diam, dalam keadaan susah, yang diliputi rasa keheranan aku memikirkan perkara aneh ini.

[Lanjutkan Membaca]

Dari Saudi untuk Afrika, Dari Afrika untuk Syaikh Bin Baz

Nabi yang penyayang –shallallahu’alaihi wa sallam– bersabda:

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

“Orang-orang yang penyayang, disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Penyayang). Sayangilah yang di bumi niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.“ (HR. At-Tirmidzi, no. 1924, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 925)

Barangkali inilah salah satu kisah pengamalan hadits di atas oleh sebuah pemerintahan Islam dan seorang ulama besar di abad ini yang pernah menjadi mufti (semacam ketua MUI) di negara tersebut. Ali bin Abdullah Ad-Darbi menceritakan:

“Ada satu kisah yang sangat berkesan bagiku, pernah suatu saat berangkatlah empat orang dari salah satu lembaga sosial di Kerajaan Saudi Arabia ke pedalaman Afrika untuk mengantarkan bantuan dari pemerintah negeri yang penuh kebaikan ini, Kerajaan Saudi Arabia.

Setelah berjalan kaki selama empat jam dan merasa capek, mereka melewati seorang wanita tua yang tinggal di sebuah kemah dan mengucapkan salam kepadanya, lalu memberinya sebagian bantuan yang mereka bawa.”

Maka berkatalah sang wanita tua, “Dari mana asal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami dari Kerajaan Saudi Arabia”.

Wanita tua itu lalu berkata, “Sampaikan salamku kepada Syaikh Bin Baz”.

Mereka berkata, “Semoga Allah merahmatimu, bagaimana Syaikh Bin Baz tahu tentang Anda di tempat terpencil seperti ini?”

Wanita tua menjawab, “Demi Allah, Syaikh Bin Baz mengirimkan untukku 1000 Riyal setiap bulan, setelah aku mengirimkan kepadanya surat permohonan bantuan, setelah aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”.”

(Koran Al-Madinah, no. 13182)

Sumber

Nabi Musa dan Batu Yang Melarikan Bajunya

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bani Israil biasa mandi dengan bertelanjang; satu sama lain saling melihat anggota badan temannya. Tetapi Nabi Musa mandi seorang diri.

Mereka mengatakan, “Demi Allah! Tidak ada yang melarang Musa mandi bersama-sama dengan kita kecuali karena dia berpenyakit, buah pelirnya besar.”

Pada suatu kali Nabi Musa mandi, kainnya diletakkan di atas batu, lalu batu itu melarikan kain Nabi Musa dan beliau menyusulnya sambil berteriak, ‘Kainku! Kainku! Hai Batu.’

Sehingga oleh karena itu, Bani Israil dapat melihat (aurat) Nabi Musa lantas mereka berkata, ‘Demi Allah! Musa tidak berpenyakit apa-apa.’

Lalu Nabi Musa mengambil kainnya dan dipukulnya batu itu.”

Abu Hurairah berkata, “Pada batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan.”

Dan turunlah ayat yang berkenaan dengan cerita ini, artinya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia orang yang mempunyai kedudukan di sisi Allah.’ (Al-Ahzab: 69). [1]

[Lanjutkan Membaca]

Ibnu Abbas رضي الله عنهما

Beliau adalah putra paman Nabi صلى الله عليه وسلم , dilahirkan tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Beliau selalu menyertai Nabi صلى الله عليه وسلم , karena beliau termasuk sepupu Nabi صلى الله عليه وسلم sekaligus keponakan Maimunah, istri Nabi صلى الله عليه وسلم. Ketika kecil, Nabi صلى الله عليه وسلم pernah merangkulnya dan mendoakan,

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ – اللَّهُمّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Ya Allah, ajarilah dia Alkitab (Alquran) – Ya Allah, jadikan dia fakih dalam agama.” [HR. Al-Bukhari, no. 3756 dan Muslim, no. 2477]

Dengan doa yang berkah ini, Ibnu Abbas pun menjadi sahabat yang memiliki kemampuan bagus dalam tafsir dan fikih. Allah menjadikannya orang yang bersemangat dalam belajar dan menuntut ilmu, serta menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Sampai, beliau digelari dengan “Habrul Ummah” (tinta umat) dan “Turjumanul Qur’an” (penerjemah Alquran). Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sebaik-baik penafsir Alquran adalah Ibnu Abbas. Andaikan usianya seperti kita maka tidak ada orang yang ilmunya setingkat beliau.” (Al-Itqan, 2:493)

Beliau memiliki derajat yang mulia di hadapan masyarakat. Sampai, Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah mengundang Ibnu Abbas untuk mengikuti majelis negara Islam di Madinah yang dihadiri para sahabat senior, dan Umar mengambil pendapat Ibnu Abbas. Ibnu Umar pernah ditanya tentang tafsir, kemudian beliau menyuruh orang yang bertanya untuk mendatangi Ibnu Abbas. Ibnu Umar mengatakan, “Sesungguhnya, Ibnu Abbas adalah orang yang paling paham tentang kitab Allah di kalangan para sahabat yang masih tersisa saat ini.”

[Lanjutkan Membaca]

%d blogger menyukai ini: