Merasa Paling Benar

Oleh: Ust. Badrussalam, Lc

Jangan merasa paling benar sendiri..
sebuah ucapan yang sering terdengar..
untuk berkilah ketika ditegur atau diingatkan..

Padahal merasa benar adalah fitrah manusia..
karena tidak ada di dunia ini yang merasa paling sesat sendiri..

Lihatlah Fir’aun, ia berkata:
“Aku tidaklah memandang kecuali yang aku pandang baik, dan aku hanyalah membimbing kalian kepada jalan kebenaran.”
(Ghafir: 29).

Bila ada yang berkata kepadamu: “Jangan merasa paling benar sendiri.”
tanyalah ia: “Anda berkata demikian apakah merasa benar?”
tentu ya..

Merasa paling benar dalam perkara yang telah jelas dalilnya..adalah perkara yang diperintahkan..

Sedangkan dalam perkara yang bersifat ijtihad dan tidak ada nash yang gamblang…
maka kita hanya memilih yang kita pandang kuat tanpa menyesatkan yang lainnya..

Yang salah adalah orang yang merasa paling benar..
namun tidak memiliki hujjah dan dalil yang kuat dr Al Qur’an & Assunnah

Iklan

Kemuliaan Wanita

Oleh: Ust. Badrussalam, Lc

Wanita..
Ia adalah makhluk yang mulia..
Di saat kecil..
Memberi pahala besar untuk orang tuanya..
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..
Siapa yang memiliki dua saudari atau dua anak wanita..
Lalu ia berbuat baik kepada keduanya..
Maka aku dan ia di dalam surga seperti ini..
Beliau menggandengkan dua jarinya..
HR Al Khathib..

Di saat menjadi istri..
Ia menjadi ladang pahala untuk suaminya..
Mengangkatnya menjadi manusia terbaik..
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..
Sebaik baik kamu adalah yang paling baik untuk istrinya..
HR Bukhari dan Muslim..

Ketika menjadi ibu..
Ia amat mulia dan haknya amat agung..
Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi..
Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?
Beliau bersabda: ibumu..
Kemudian siapa? Beliau bersabda: ibumu..
Kemudian siapa? Beliau bersabda: ibumu lalu bapakmu..
HR Bukhari..

Wahai wanita..
Sadarkah bahwa kalian makhluk yang mulia..
Maka janganlah kamu campakkan kemuliaanmu..

Semoga Allah senantiasa menjagamu..

Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Oleh: Ust. Badrussalam, Lc

Abdullah bin Mughoffal radliyallahu anhu berkata, ” Ada seorang lelaki bertemu dengan seorang wanita yang pernah menjadi pelacur di masa jahiliyah.

Lalu lelaki itu mencandainya dan menjulurkan tangannya kepada wanita itu..
Wanita itu berkata, “Jangan begitu, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesyirikan dan mendatangkan Islam..”

Lelaki itu pergi meninggalkannya, dan menengok kepada wanita itu hingga wajahnya terbentur tembok..

Lalu ia mengabarkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam..
Beliau bersabda, “Kamu seorang hamba yang Allah inginkan kebaikan untukmu..

Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya apabila Allah menginginkan keburukan kepada seorang hamba..
Allah biarkan ia dengan dosanya..
Sampai Diberikan balasannya pada hari kiamat..

HR Ath Thabrani, AL Hakim dan AL Baihaqi..

Di zaman ini..
Berapa banyak mata kita melihat maksiat..
Namun dibiarkan oleh Allah tidak diberikan sanksi..

Astaghfirullah..

Sibuk Memikirkan Sesuatu

Oleh: Ust. Badrussalam, Lc

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Berfikir adalah asal segala ketaatan, dan asal semua kemaksiatan.” (Miftah Daar As Sa’adah hal. 226).

Kok bisa begitu ya?..
Setelah direnungkan.. Betul juga..
Memikirkan sesuatu biasanya akan merubah suasana hati..
Lalu menimbulkan niat dan keinginan..
Sedangkan niat adalah awal perbuatan..

Ketika seseorang memikirkan tujuan kehidupannya..
Ia ingat kehidupan setelah kematian..
Suasana hatipun berubah..
Timbullah keinginan untuk berbuat ketaatan..

Ketika seorang istri melihat keburukan suaminya..
Ia sibuk memikirkan keburukan tersebut..
Hingga hilang semua kebaikan suaminya..
Timbullah perbuatan nusyuz.. Atau setidaknya berkurang rasa cintanya..
Padahal mungkin suaminya sudah banyak berbuat baik kepadanya..

Ketika seorang lelaki melihat wanita jelita..
Lalu ia sibuk membayangkan keindahannya..
Ia pun lupa dari berdzikir kepada Allah..
Lupa bahwa bidadari surga lebih indah dan jelita..
Lalu muncul keinginan yang terlarang..

Ketika melihat gemerlapnya dunia..
Ia berfikir.. Dan terus sibuk memikirkannya..
Seperti orang yang melihat kemewahan si Qorun..
Ia berkata, “Andai aku kaya seperti dia.. Duhai beruntung sekali rasanya..
Suasana hatinya berubah.. Ia menilai kehormatan sebatas dengan kekayaan.. Kedudukan.. Dan kenikmatan dunia..
Sementara temannya yang mukmin berkata..
“Celaka kamu.. Pahala Allah lebih baik dan lebih kekal..
Dunia hanyalah kesenangan sesaat..
Lalu ia akan hancur dan musnah..

Hari ini..
Esok dan lusa..
Kita sibuk berfikir apa ??
Moga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu berfikir positif..

Aamiin..

Ujian Berupa Ni’mat

Oleh: Dr. Syafiq Reza Basalamah

Masih ingatkah dengan kisa Nabi Sulaiman?

Seorang Nabi dan Raja yang sangat hebat dan menakjubkan

Allah memberinya kerajaan yang tidak diberikan kepada siapapun sesudahnya

Ia memahami bahasa binatang

Bangsa jin tunduk bahkan menjadi bala tentaranya

Angin juga Allah tundukkan buatnya dan berbagai nikmat yang lainnya yang tak dapat dihitung lagi

Ketika ia mendengar ratu semut berbicara kepada rakyatnya, sebagaimana Allah ceritakan di dalaam surah An Naml ayat 18, beliau tersenyum mendengarkan ucapannya dan langsung ingat kepada Allah sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Yang telah memberinya nikmat tersebut seraya berdoa yang artinya

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Nikmat Allah begitu Besar dan tanpa pertolonganNya tidak mungkin ia dapat mensyukurinya.

Nabi sulaimana tidak lupa daratan dengan kehebatannya, Ia sama sekali tidak congkak dan sombong, bahkan ia merendahkan dirinya depan Allah.

Dan ketika ia meminta agar singgasana ratu balgis dihadirkan ke istananya, sebelum matanya berkedip, singgasana itu telah hadir

Dari jarak yang sangat jauh, Ribuan kilometer antara Yaman Yerusallem

Dia sadar, bahwa yang terjadi adalah karunia Allah

Dan nikmat itu adalah bentuk ujian dariNya

Tidak seperti sebagian yang memandang ujian hanya yang bentuknya musibah

Maka nabi Sulaiman langsung berkata

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya) (An Naml 40).

Maka bila kau memperoleh nikmat, kesuksesan atau apa saja, sehingga kau merasa hebat

Ketahuilah bahwa dirimu sedang dalam ujian

Berapa banyak yang tidak lulus ketika diuji dengan kenikmatan dunia

Karena dunia membuatmu jauh dan lupa dari sang Pemberi

Semoga engkau bukan salah satunya

20 Gram

Selama Baik, Jangan Bosan

Oleh: @SahabatIlmu

Pernah mendengar sepasang insan yang “berpacaran” tahunan, namun membina rumah tangga hanya seumur jagung…?

Ada pula seorang pria/wanita yang berkeinginan berpisah hanya karena “bosan” dengan tingkah laku pasangan…?!

Padahal (mungkin) letak kesalahan justru terletak pada dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah.

Apabila ia membenci salah satu perangainya, niscaya ia akan ridha dengan perangai lainnya…” (HR. Muslim: 1469)

Ingatlah masa-masa lamaran dan menentukan tanggal pernikahan…

Kenanglah saat-saat bulan awal membina rumah tangga…

Jangan dirusak hanya karena sifat bosan…

Sahabat yang mulia, ‘Amr bin Ash berkata,

“Aku tidak bosan kepada bajuku selama masih pantas kukenakan…

Dan aku tidak bosan atas istriku selama ia masih baik mempergauliku…

Dan tidaklah aku bosan terhadap tungganganku selama masih mampu memikulku…

Sesungguhnya sifat mudah bosan termasuk perangai yang buruk…”

(Siyar A’lamin Nubala: 3/57)

Bosanlah dari berbuat kejahatan, jenuh akan diri bila selalu malas…

Tetapi… Selama sesuatau itu berupa kebaikan, jangan bosan.

@SahabatIlmu

Kajian Islam Ilmiah Bersama Ust. Firanda Andirja, M.A (Bandung, 17 & 18 Agustus 2014)

Tabligh Akbar “Pesona Surga” Bersama Prof. DR. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr Hafidzahumallaah (Masjid Istiqlal, 31 Agustus 2014)

Beberapa Atsar Tentang Keutamaan Ilmu Syar’i Atas Ibadah

Diriwayatkan dari az-Zuhri, beliau mengatakan,

ماَ عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ العِلْمِ

“Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amal lebih utama dari pada dengan ilmu.” (Hilyah al-Auliya` 3/365)

Ditanyakan kepada Atha` bin Abi Rabaah,

ماَ أَفْضَلُ ماَ أُعْطِيَ العِبادُ ؟ قالَ: العَقْلُ عَنِ اللهِ تَعالىَ وَهُوَ المَعْرِفَةُ بِالدِّيْنِ

“Apakah yang paling utama yang diberikan kepada setiap hamba?” Beliau menjawab, “Akal akan Allah ta’ala, yaitu pengetahuan akan agama.” (al-Hilyah 3/315)

Dan juga Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri mengatakan,

لاَ أَعْلَمُ مِنْ العِبادَةِ شَيْئاً أَفْضَلُ مِنْ أَنْ يُعَلِّمَ النَّاسَ العِلْمَ

“Tidaklah saya mengetahui sesuatu dari ibadah yang lebih utama dari pada mengajarkan ilmu bagi kaum manusia.” (Jami` Bayaan al-Ilmi 1/124)

Di lain waktu beliau juga mengatakan,

لَيْسَ عَمَلٌ بَعْدَ الفَراَئِضِ أَفْضَلَ مِنْ طَلَبِ العِلْمِ

“Tiada amalan setelah pengerjaan amal fardhu lebih utama dari menuntut ilmu (al-Hilyah 6/363)

Di dalam al-Amaali karya asy-Syajari 1/66, diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa beliau mengatakan,

تَعَلُّمُ العِلْمِ سَنَةً أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةٍ مِائَةَ سَنَةٍ

“Belajar ilmu selama setahun lebih utama dari ibadah seratus tahun.”

Diriwayatkan juga dari al-Hasan al-Bashri bahwa beliau berkata,

لَباَبٌ واَحِدٌ مِنْ العِلْمِ أَتَعَلَّمُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْياَ وَماَ فِيْهاَ

“Satu bahasan dari ilmu yang saya pelajari lebih saya cintai dari dunia dan segala isinya.” (al-Hilyah 6/271)

Abdurrahman bin Mahdi juga berkata,

الرَّجُلُ إِلىَ العِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُ إِلىَ الأَكْلِ وَالشُرْبِ

“Seseorang lebih membutuhkan ilmu dari pada kebutuhan akan makan dan minum.” (al-Hilyah 9/4)

Sumber : BBG Assunnah

%d blogger menyukai ini: