Category Archives: Tanya Jawab

Apakah Angin Yang Keluar Dari Kemaluan (Vagina) Wanita Dapat Membatalkan Wudhu?

Pertanyaan:

Afwan أُسْتَاذُ ..kalau keluar angin dari kemaluan seorang wanita…apakah harus berwudhu lagi? Karena banyak ‘ikhtilaf dalam hal ini. Mohon kesediaan أُسْتَاذُ untuk menjawabnya. جَزَاك اللّهُ خَيْرًا

 Jawaban:

Bismillah. Dalam masalah ini ada dua pendapat diantara para ulama fiqih.

Pendapat Pertama:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa angin yg keluar dari kemaluan (vagina) wanita MEMBATALKAN WUDHU.
Mereka melandasi pendapatnya dengan hal-hal berikut ini:
1) Keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لا وضوء إلا من صوت أو ريح

(La Wudhu-a illa min Shoutin au Riihin)
Artinya: “Tidaklah membatalkan wudhu kecuali dikarenakan (terdengarnya) suara atau (terciumnya) bau (kentut).” (HR. Muslim dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu anhu).
2) Qiyas (menganalogikan) angin yang keluar dari lubang vagina dengan apa yang keluar dari dubur dan kemaluan (tinja dan kencing).

Pendapat Kedua:
Abu Hanifah, Imam Malik, Ibnu Hazm dan selainnya berpendapat bahwa hal itu TIDAK MEMBATALKAN WUDHU.
Mereka beralasan bahwa Dhuroth (kentut dengan suara) dan Fusa’ (kentut tanpa suara / diam-diam) adalah suatu nama untuk angin yang keluar dari dubur.

[Lanjutkan Membaca]

Iklan

Berdosakah Laki-laki Dan Wanita Yang Tidak Menikah Hingga Akhir Hayat?

 Pertanyaan:
Pertanyaan dr member AI-Ilmu 158 :
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ..

Apa hukumnya pria atau wanita yang tidak menikah sampai akhir hayatnya?? Terimakasih

Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Hukumnya tergantung pada sebab atau alasan mereka tidak menikah. Jika sebab/alasannya karena memang mereka sudah berjuang sekuat tenaga mencari jodoh kesana-kemari, dan dengan minta bantuan banyak orang untuk mencarikan dan menghubungkannya dengan calon pendamping hidup, namun belum juga mendapatkannya hingga ajal menjemput mereka, maka mereka tidak berdosa, dan bahkan mendapatkan pahala seperti orang yang menikah dengan niat mereka yang jujur dan sungguh-sungguh ingin mengamalkan sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak mendapatkan jodoh karena memang takdir Allah telah menetapkan demikian.

Demikian pula, mereka yang tidak sempat menikah hingga meninggal dunia dikarenakan tidak punya waktu untuk menikah, seperti sebagian ulama hadits yang hari-harinya habis untuk melakukan rihlah (perjalanan) dalam mencari hadits dan mengkaji ilmu, mereka berpindah-pindah dari 1 negeri ke negeri yang lain, sementara sarana transportasi pada zaman mereka tidak secanggih transportasi di zaman kita ini, maka orang-orang seperti mereka ini tidaklah berdosa karena tidak menikah hingga akhir hayat.
Demikian pula, tidak berdosa orang-orang yang tidak menikah hingga akhir hayat dikarenakan penyakit atau cacat permanen yang menimpa mereka, seperti tidak punya syahwat, atau tidak punya kelamin yang normal yang dengannya mampu melakukan jima’, seperti terkena penyakit impoten atau alat kelaminnya terputus akibat kecelakaan atau bawaan dari lahir, dsb.

[Lanjutkan Membaca]

Hukum Cium Tangan

Hukum Cium Tangan

Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apa hukum cium tangan? Dan apa hukum merncium tangan seseorang yang memiliki keutamaan, misalnya guru, dan sebagainya? Apa pula hukum mencium tangan paman dan lainnya yang lebih tua? Apakah mencium tangan kedua orang tua ada tuntunannya dalam syari’at? Ada orang yang mengatakan bahwa cium tangan mengandung kehinaan (menghinakan diri sendiri).

Jawaban Menurut kami, itu boleh, dalam rangka menghormati dan bersikap sopan terhadap kedua orang tua, ulama, orang-orang yang memiliki keutamaan, kerabat yang lebih tua dan sebagainya. Ibnul Arabi telah menulis risalah tentang hukum cium tangan dan sejenisnya, sebaiknya merujuknya.

Bila cium tangan itu dilakukan terhadap kerabat-kerabat yang lebih tua atau orang-orang yang memiliki keutamaan, ini berarti sebagai penghormatan, bukan menghinakan diri dan bukan pula pengagungan. Kami dapati sebagian Syaikh kami mengingkarinya dan melarangnya, hal itu karena sikap rendah hati mereka, bukan berarti mereka mengharamkannya. Wallahu a’lam

[Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin (1852), tanggal 20/11/1421H]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wajan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq]

Sumber : www.almanhaj.or.id

Bolehkah Mencukur atau Mencabut Bulu Kening?

Pertanyaan:

Adakah dibenarkan umat Islam mencukur/mencabut bulu kening?

Rohaini (rohaini**@***.com)

Jawaban:

Bismillah.

Kita dilarang untuk mencabut bulu alis atau bulu kening. Dasarnya adalah hadis dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat al-mutanammishat, al-mustausyimat, dan al-mutafallijat.” (H.R. Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasa’i)

Keterangan:

  • Al-Mutanammishat: Wanita yang minta agar bulu keningnya dicabut. Orang yang mencabut (tukang salon) disebut “namishah“.
  • Al-Mustausyimat: Wanita yang minta agar ditato.
  • Al-Mutafallijat: Wanita yang mengikir giginya agar kelihatan cantik.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: http://www.KonsultasiSyariah.com

Gaji Pembantu Termasuk Pahala Sedekah

Pertanyaan

Assalamu’alaikum. Apakah dengan kita menggaji pembantu setiap bulannya selain kewajiaban kita memberi upah apakah termasuk sedekah juga? Mohon penjelasannya.

Dari Siti khodijah (Anggota milis fatwa kpmi)

Jawaban perihal gaji pembantu:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakuh.

Iya, gaji pembantu termasuk sedekah, bahkan hal itu jg mendatangkan pahala sebagaimana hadis Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن المسلم إذا أنفق على أهله نفقة وهو يحتسبها كانت له صدقة

“Sesungguhnya seorang muslim apabila ia menafkahi keluarganya dengan suatu nafkah, sedangkan ia berharap pahala darinya, maka nafkahnya itu mnjadi suatu sedekah baginya.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

[Lanjutkan Membaca]

Sedekah Dengan Uang Syubhat

Pertanyaan:

Assalamu‘alaykum. Admin, afwan. Bolehkah kita sedekah dengan uang yang syubhat? Uang yang didapat dari yang tidak jelas sumbernya dan dari denda karena suatu hal, dan bolehkan kita sedekah dengan bunga bank? Jazakumulloh.

Indah Dwi (indah_dwi**@***.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Boleh memberikan uang syubhat atau riba kepada orang lain. Hanya saja, statusnya bukan sedekah karena yang memberi tidak mendapatkan pahala sedekah dengan uang tersebut. Untuk itu, sebaiknya, ketika memberi sekaligus menjelaskan bahwa uang tersebut adalah uang riba atau bahwa itu adalah hasil praktik dari sesuatu yang haram, agar si penerima tidak menyangkanya sebagai sedekah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber

Memakai Celak Ketika Puasa

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya bercelak bagi orang yang berpuasa?

Jawaban:

Bercelak bagi orang yang berpuasa hukumnya boleh, begitu juga memakai obat tetes mata dan telinga, hingga jika dia merasakan sesuatu akibat tetesan itu di tenggorokannya, hal itu tidak membatalkan puasanya, karena itu bukan makan dan minum dan tidak bermakna makan dan minum. Dalil yang menjelaskan pembatalan puasa itu berkaitan dengan larangan makan dan minum, maka tidak bisa diartikan makan dan minum sesuatu yang tidak masuk dalam makna keduanya. Itulah pendapat kami dan pendapat ini telah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan itulah yang benar. Adapun jika seseorang meneteskan obat tetes pada hidung lalu masuk perutnya, maka hal itu membatalkan puasa jika dia sengaja melakukannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sempurnakanlah dalam membersihkan hidung kecuali jika kalian sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud).

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007

Sumber

Tertinggal Satu Rakaat Shalat Tarawih

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum. Mau tanya nih, Pak Ustadz. Apa yang harus kita lakukan saat tertinggal satu rakaat pada saat shalat tarawih?

Musyahir (**syahir@***.com)

Jawaban:

Wa’alaikumus salam.

Orang yang ketinggalan tarawih bisa langsung bergabung dengan imam, kemudian ketika imam salam shalat witir, si makmum ini langsung berdiri menggenapkan dengan menambahkan satu rakaat, kemudian baru salam. Selanjutnya, makmum masbuk bisa menambahi jumlah rakaat tarawih yang kurang, kemudian diakhiri dengan witir. [Lanjutkan Membaca]

Obat Tetes Mata Waktu Puasa

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya obat tetes hidung, mata dan telinga bagi orang yang berpuasa?

Jawaban:

Obat tetes hidung jika tetesan itu sampai masuk ke dalam perut maka membatalkan puasa, seperti yang dijelaskan dalam hadits Luqaith bin Shabrah yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

“Sempurnakanlah dalam membersihkan hidung, kecuali jika kalian sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud).

Orang yang berpuasa tidak boleh meneteskan obat tetes pada hidungnya hingga masuk ke dalam perutnya. Sedangkan jika tetesan itu tidak masuk ke dalam perut, maka tidak membatalkan.

[Lanjutkan Membaca]

Lafal “Amin” yang Benar

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamu ‘alaikum, Ustadz. Saya mau tanya perihal lafal “Amin” saat shalat berjemaah setelah imam membaca surah Al-Fatihah. Bagaimana dengan panjang-pendeknya bacaan “Amin” tersebut, karena saya mengetahui dalam kaidah bahasa Arab, lafal “Amin” itu ada 4 perbedaan. Salah satu di antaranya “Aamiin” (alif dan mim sama-sama panjang), yang artinya, “Ya Tuhan, kabulkanlah doa kami.” Apakah lafal ini yang dipakai, atau bagaimana yang diperbolehkan? Jazakallahu khairan.

Rasyid Ibnu Ali (**_math07@yahoo.***)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Ada beberapa kata yang mirip untuk kata “Aamiin“.

1. أَمِيْنٌ (a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.

2. أٰمِنْ (a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

[Lanjutkan Membaca]

%d blogger menyukai ini: