Ibnu Abbas رضي الله عنهما

Beliau adalah putra paman Nabi صلى الله عليه وسلم , dilahirkan tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Beliau selalu menyertai Nabi صلى الله عليه وسلم , karena beliau termasuk sepupu Nabi صلى الله عليه وسلم sekaligus keponakan Maimunah, istri Nabi صلى الله عليه وسلم. Ketika kecil, Nabi صلى الله عليه وسلم pernah merangkulnya dan mendoakan,

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ – اللَّهُمّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Ya Allah, ajarilah dia Alkitab (Alquran) – Ya Allah, jadikan dia fakih dalam agama.” [HR. Al-Bukhari, no. 3756 dan Muslim, no. 2477]

Dengan doa yang berkah ini, Ibnu Abbas pun menjadi sahabat yang memiliki kemampuan bagus dalam tafsir dan fikih. Allah menjadikannya orang yang bersemangat dalam belajar dan menuntut ilmu, serta menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Sampai, beliau digelari dengan “Habrul Ummah” (tinta umat) dan “Turjumanul Qur’an” (penerjemah Alquran). Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sebaik-baik penafsir Alquran adalah Ibnu Abbas. Andaikan usianya seperti kita maka tidak ada orang yang ilmunya setingkat beliau.” (Al-Itqan, 2:493)

Beliau memiliki derajat yang mulia di hadapan masyarakat. Sampai, Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah mengundang Ibnu Abbas untuk mengikuti majelis negara Islam di Madinah yang dihadiri para sahabat senior, dan Umar mengambil pendapat Ibnu Abbas. Ibnu Umar pernah ditanya tentang tafsir, kemudian beliau menyuruh orang yang bertanya untuk mendatangi Ibnu Abbas. Ibnu Umar mengatakan, “Sesungguhnya, Ibnu Abbas adalah orang yang paling paham tentang kitab Allah di kalangan para sahabat yang masih tersisa saat ini.”

Demikian pula, para tabiin yang berguru kepada Ibnu Abbas. Mereka banyak memberikan pujian kepada Ibnu Abbas. Di antaranya, Atha’ bin Abi Rabah mengatakan, “Saya belum pernah melihat majelis yang lebih mulia dibandingkan majelis Ibnu Abbas dalam hal fikih dan yang paling bisa meningkatkan ketakwaan. Para ahli fikih ada di majelisnya, ahli Alquran ada di majelisnya, ahli syair ada di majelisnya. Ibnu Abbas memberikan ilmu kepada mereka semua dari lembah ilmu yang luas.”

Ketika Musim Haji, Ibnu Abbas pernah menyampaikan khotbah di Arafah. Beliau memulai dengan membaca surat An-Nur, beliau baca dan beliau tafsirkan dengan tafsir yang sangat bagus. Sampai ada seseorang, yang bernama Abu Wail mengatakan, “Saya belum pernah melihat dan mendengar perkataan seseorang yang seperti itu. Andaikan orang Romawi, orang Persi, dan orang Turki mendengarkan khotbah beliau, niscaya mereka akan masuk Islam.”

Di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه , beliau ditugaskan di Bashrah. Ketika Ali terbunuh, beliau pindah ke wilayah Hijaz dan tinggal di Mekah. Kemudian beliau pindah ke Thaif dan meninggal di sana pada tahun 68H di usia beliau yang ketujuh puluh satu tahun. (Ushul fi Tafsir, hlm. 53–55)

Referensi:

  • Ushul fi Tafsir. Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin. Maktabah As-Sunnah. Mesir. 1419 H.
  • Al-Jami Ash-Shahih Al-Mukhtashar. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Dar Ibnu Katsir. Beirut. 1407 H.
  • Shahih Muslim. Imam Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi. Dar Ihya At-Turats. Beirut. 1374 H.
  • Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an. Jalaluddin As-Suyuthi. Asy-Syamilah.

Sumber : http://www.Yufidia.com

Posted on September 22, 2012, in Kisah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: