Gajian – Sebuah Video Motivasi Islami untuk Para Pencari Nafkah

Iklan

Bahagiakan Istrimu, Jika Ingin Anak yang Shalih dan Berakhlak

Wahai suami
Bisa jadi
Anak stres karena Ibunya stres
Istri stres karena suaminya

Bahagiakanlah istrimu
Jika ingin Anak
Yang shalih lagi berakhlak

Wahai suami,
Anda adalah pemimpin rumah tangga
Laki-laki dikaruniai kelebihan atas wanita yaitu lebih tenang dan lebih bijak menghadapi sesuatu.
Suami harus yang lebih tenang dalam menghadapi problematika rumah tangga.

Suami lebih sering memaklumi wanita yang “bengkok” dan sering-sering memperbaiki dan menasehati, seringnya wanita hanya emosi sesaat dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti suami

Tetapi ketahuilah bahwa wanita itu sangat cinta suaminya, maka pelukan kepada istri sambil terus mendengarkan dan menenangkan adalah solusinya

Perhatikan juga para suami, Jika ada sesuatu yang tidak beres pada istri dan anak-anak bisa jadi akibat maksiat suami, maka intropeksi diri dan perbanyak istigfar

Sebagian ulama berkata,

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku.”

@RS Manambai, Sumbawa Besar

Ditulis oleh seorang suami yang sedang belajar membahagiakan istrinya: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com

Lima Menit yang Sangat Bermanfaat

Oleh: Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA

Seringkali datang rasa malas dalam benak kita untuk melakukan amal ketaatan yang sebenarnya ringan, itulah lihainya setan dalam menggoda manusia.

☄ Diantara tips untuk melawan kemalasan ini adalah dengan MENYEDERHANAKAN sebuah amalan, yakni menyadarkan diri bahwa amalan itu sangat ringan dan sederhana, hanya butuh LIMA MENIT saja.

❗Ketika Anda malas sholat sunnah 2 rekaat sebelum atau sesudah sholat wajib, maka katakan pada diri Anda dan lihatlah jam: “Hanya butuh kurang dari lima menit, masa PELIT beramal untuk diri sendiri ?!“.

❗Ketika Anda malas membaca Qur’an, maka katakan pada diri Anda: “Cobalah membaca Qur’an, lima meniiit saja, pahala untuk selamanya lo…“

❗Ketika Anda malas untuk membaca dzikir-dzikir setelah sholat fardhu, katakan pada diri Anda: “Tidak maukah berdzikir meski hanya lima menit ?! bukankah telah banyak waktu yang terbuang tanpa pahala ?!“

➡ Selamat mencoba tips ini, dan ikutilah gerakan jam untuk membuktikannya bila diinginkan dan dimungkinkan, insyaAllah akan banyak amal ibadah yang bisa Anda lakukan…

ا•┈•❖◎❂🌺❂◎❖•┈•ا

☄ Bilangan “5 menit” di sini hanyalah sebagai perwakilan untuk bagian kecil dari waktu Anda, sehingga bila masih terlihat banyak, maka bisa diganti dengan 4, 3, 2, 1 menit… dan bila terlihat terlalu sedikit, bisa diganti dengan 6,7,8, dst…

☄ Metode seperti ini juga tersirat dalam beberapa hadits, diantaranya sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-

“Ada DUA kalimat yang RINGAN di lisan, dicintai oleh Arrohman, dan berat dalam timbangan; subhaanallohi wabihamdih, subhaanallohil azhim

Kisah Nabi Luth ‘Alaihissalam

Nabi Luth ‘alaihissalam berhijrah bersama pamannya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menuju Mesir. Keduanya tinggal di sana beberapa lama, lalu kembali ke Palestina. Di tengah perjalanan menuju Palestina, Nabi Luth meminta izin kepada pamannya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk pergi menuju negeri Sadum (di dekat laut mati di Yordan) karena Allah telah memilihnya sebagai Nabi-Nya dan Rasul-Nya yang diutus kepada negeri tersebut, maka Nabi Ibrahim mengizinkannya dan Nabi Luth pun pergi ke Sadum serta menikah di sana.

Ketika itu, akhlak penduduknya sangat buruk sekali, mereka tidak menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan tidak malu berbuat kemungkaran, berkhianat kepada kawan, dan melakukan penyamunan. Di samping itu, mereka mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelumnya di alam semesta. Mereka mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwatnya dan meninggalkan wanita.

Saat itu, Nabi Luth ‘alaihissalam mengajak penduduk Sadum untuk beriman dan meninggalkan perbuatan keji itu. Beliau berkata kepada mereka,

“Mengapa kamu tidak bertakwa?”– Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.–Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia,– Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 160-161)

Tetapi kaum Luth tidak peduli dengan seruan itu, bahkan bersikap sombong terhadapnya serta mencemoohnya. Meskipun begitu, Nabi Luth ‘alaihissalam tidak putus asa, ia tetap bersabar mendakwahi kaumnya; mengajak mereka dengan bijaksana dan sopan, ia melarang dan memperingatkan mereka dari melakukan perbuatan munkar dan keji. Akan tetapi, kaumnya tidak ada yang beriman kepadanya, dan mereka lebih memilih kesesatan dan kemaksiatan, bahkan mereka berkata kepadanya dengan hati mereka yang kasar, “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Al ‘Ankabbut: 29)

Mereka juga mengancam akan mengusir Nabi Luth ‘alaihissalam dari kampung mereka karena memang ia adalah orang asing, maka Luth pun marah terhadap sikap kaumnya; ia dan keluarganya yang beriman pun menjauhi mereka.

Istrinya lebih memilih kafir dan ikut bersama kaumnya serta membantu kaumnya mengucilkannya dan mengolok-oloknya. Terhadap istrinya ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuatkan perumpamaan,

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At Tahrim: 10)

Pengkhianatan istri Nabi Luth kepada suaminya adalah dengan kekafirannya dan tidak beriman kepada Allah Subhnahu wa Ta’ala.

[Lanjutkan Membaca]

Tunda Menikah

Oleh: @SahabatIlmu

(Hampir) tidak pernah ada masa siap menikah, selalu ada alasan untuk menunda.

A. Miskin

Allah ta’ala berfirman,

إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ

“Jika mereka (orang yang menikah) itu miskin maka Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya..” (QS. An-Nuur: 32)

Boleh jadi berupa rizki yang mencukupi atau sifat qona’ah (senantiasa merasa cukup) atas limpahan nikmat..

Bahkan bisa saja terkumpul dua keadaan di atas..

B. Ditolong Allah.

Satu dari tiga golongan yang pasti ditolong Allah diantaranya..

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Seorang yang menikah sebab hendak menjaga kesucian dirinya..” (Hasan, HR. An-Nasa’i: 3218, At-Tirmidzi: 1655)

C. Maksiat

Adakalanya seseorang telah memiliki kecukupan dan keluasan rizki namun tak jua kunjung menikah..

Untuk mereka, Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu menasihati:

ما يمنعك من النكاح إلا عجز أو فجور

“Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali sebab lemah (syahwat) atau ahli maksiat..”

[Al-Muhalla: 9/4 Ibnu Hazm rahimahullah]

Jadi.. Sejatinya apa yang membuat seseorang menunda menikah..?!

 

Tiada Bahaya Mendekat

Oleh: @SahabatIlmu

Ingin terhindar dari bahaya?

Bacalah dzikir pagi petang berikut dengan penuh keyakinan..

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang ketika memasuki waktu petang mengucapkan,

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dengan menyebut nama Allah yang dengan namaNya tiada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang bisa mendatangkan mudharat.

Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.. (dibaca 3x)

Niscaya tidak akan ada sesuatupun yang mampu memudharatkannya hingga waktu pagi.

Dan barangsiapa yang mengucapkannya ketika memasuki waktu pagi tiga kali.

Niscaya dia tidak tertimpa musibah secara tiba-tiba hingga petang hari..”

(Shahih, HR Abu Daud: 5088, at-Tirmidzi: 3388, Ibnu Majah: 3869, Ahmad: 1/72, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 6426 al-Albani)

Bila Allah telah menjaga..

Siapa yang mampu memudharatkan kita..?

Bacalah seluruh doa dan dzikir kita dengan penuh keyakinan..

Bukan sekedar lintasan lisan..

Berharap tiada bahaya kemudharatan yang akan mendekat..

Ambil Rapot

Oleh: @SahabatIlmu

Jantung berdebar saat mengambil rapot Ananda?

Hati gelisah kala menanti hasil belajarnya?

Bayangkan masa ketika kita pun mengambil rapot amalan di akhirat kelak.

A. Rapot Akhirat

Allah Ta’ala berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata:

”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya;

dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga” (QS. Al-Kahfi: 49)

Penulisan rapot sekolah bisa saja salah..

Namun rapot catatan amal kita di akhirat, tak akan pernah keliru..

Tertulis dengan detil dan apa adanya..

 

B. Perindah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bertutur,

”Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan hari perhitungan..

adapun besok (di akhirat) merupakan hari perhitungan dan bukan lagi hari untuk beramal..” (riwayat al-Bukhari secara mu’allaq)

  • bagi guru yang sedang menulis rapot siswa..

          jangan lupa menulis rapot akhirat kita dengan amal shalih dan kebaikan yang ada..

  • untuk siswa yang sangat senang menghiasi rapot belajarnya..

          jangan luput hiasi diri dengan keindahan akhlak dan kebajikan jiwa..

  • kepada orang tua yang bahagia bila mendapati bagusnya rapot Ananda..

          jangan tinggalkan semangat membina dan mengajarkan buah hati dengan ilmu agama..

Semoga..

Perebut Kehangatan Rumah Tangga

Oleh: @SahabatIlmu

Saat ini..

Teknologi mengambil banyak peran dalam komunikasi rumah tangga..

Memberi kemudahan..

Namun terkadang melenakan..

Sayangnya.. Seringkali anak merasa sendirian..

Walau orang tua ada di hadapan..

Tetapi sang ayah sibuk bersama gadgetnya..

Bunda asyik senyum-senyum sendiri kepada benda kotak mungil (baca: hp) lima inci..

Bagai anak yatim piatu walau masih hidup ayah ibu..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ

“Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan untuk suatu keluarga..

Maka Dia (Allah) memasukan kelemah-lembutan kepada mereka..” (Shahih, HR Ahmad, as-Shahihah: 523 al-Albani)

Jangan sampai nikmat teknologi dalam genggaman (hp) merebut kehangatan rumah tangga kita..

Yuks letakkan dan sapa ananda sang buah hati dan keluarga tercinta..

Haidh di Penghujung Ramadhan

Oleh: @SahabatIlmu

Bagi wanita, haidh adalah suatu keniscayaan..
Untuk wanita, haidh merupakan anugerah kenikmatan..
Jangan diingkari apalagi disesali..
Walau terjadi di penghujung bulan suci..

A. Ketetapan Allah

Tatkala Aisyah bersedih sebab kedapatan haidh ketika berhaji..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Perkara ini (haidh) adalah suatu ketetapan yang Allah berikan kepada kaum wanita..

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji..kecuali thawaf di Ka’bah hingga engkau bersih..”

[HR. Bukhari: 305, Muslim: 1211]

Bagi hamba yang beriman..
Berkurangnya kesempatan beribadah merupakan kesedihan..
Namun bukanlah menjadi penghalang..

B. Berbuat Apa?

Juwaibir berkata bahwa dia pernah bertanya pada adh-Dhahak rahimahullahu ta’ala,

“Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tertidur;
Apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar..?”

Adh-Dhahak pun menjawab,

“Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian..
Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian Lailatul Qadar..”

[Lathaiful Ma’arif: 341]

C. Bahagia Amal Diterima

Fudhalah bin ‘Ubaid berkata,

“Bila saja aku mengetahui Allah menerima dariku satu amalan kebaikan walaupun kecil sedikit..
tentu lebih aku sukai dari dunia dan seisinya.. karena Allah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa” [QS al-Maidah: 27]

Diantara amalan yang dapat dilakukan:

1) Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar, terutama doa yang dianjurkan saat lailatul qadr.

2) Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh langsung mushaf (misal gunakan pelapis, sarung tangan, dsb)

3) Bersedekah,

4) Mempersiapkan sahur dan berbuka bagi keluarga,

5) Beragam amal kebajikan lain.

Tetap semangat beramal kebajikan walau haidh di penghujung Ramadhan.

Belanja Keperluan Keluarga

Oleh: @SahabatIlmu

Bila di hari kerja, sulit anggota keluarga berkumpul semuanya..

Maka di hari libur akhir pekan ini, alangkah baiknya jalan bareng bersama..

A. Keluarga Bahagia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ

“Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan untuk suatu keluarga..

Maka Dia (Allah) memasukan kelemah-lembutan kepada mereka..” (Shahih, HR Ahmad, as-Shahihah: 523 al-Albani)

B. Antar Belanja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

“Amal yang paling dicintai Allah adalah membuat muslim lainnya bahagia…

atau menghilangkan kesusahannya,

atau melunasi hutangnya,

atau mengenyahkan lapar yang ia rasakan..

وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Sungguh aku berjalan bersama saudara muslim untuk suatu hajat keperluan, lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (yakni masjid Nabawi) selama sebulan penuh..” (Hasan, HR. ath-Thabrani: 13280, Shahihul Jami’ 176 al-Albani)

Keluarga bahagia bukanlah yang berlimpah harta..

Namun mereka yang hari-harinya dipenuhi kehangatan dan canda tawa..

Bila amal-amal yang dicintai Allah di atas diberikan kepada saudara muslim..

Tentu kepada keluarga sendiri lebih utama..

Jika berjalan bersama saudara muslim untuk memenuhi hajatnya lebih dicintai dari beri’tikaf di Masjid Nabawi..

Mengapa masih ada yang enggan menemani keluarga (terutama anak istri) untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga?

Kokohnya keluarga merupakan tonggak kekuatan masyarakat dan bangsa..

%d blogger menyukai ini: